Teori
Kognitif Pembelajaran Multimedia (Cognitive Theory of Multimedia Learning)
Masyarakat Indonesia
sekarang tengah memasuki era dimana seluruh aspek kehidupan sosial, ekonomi,
politik, budaya, dan pendidikan diwarnai oleh perkembangan teknologi informasi.
Di bidang pendidikan, fokus pengajaran sekarang ini adalah bagaimana
penyampaian pelajaran bisa berjalan efektif dengan menggunakan teknologi
informasi. Media pendidikan sebagai produk dari teknologi semakin bervariasi
mulai dari yang sederhana hingga yang canggih. Media cetak dan elektronik pun
pada dasarnya memiliki potensi untuk menunjang kegiatan pendidikan dan
pembelajaran. Perkembangan pesat teknologi informasi dapat menjadi tantangan
yang memberi kesempatan bagi dunia pendidikan dan para pendidik khususnya agar
dapat bekerja maksimal. Teknologi informasi dapat digunakan sebagai salah satu
bagian dari teknologi pendidikan yang mendukung proses pembelajaran. Penggunaan
teknologi informasi ini akan bermanfaat bagi anak didik karena teknologi
informasi ini memperhatikan perbedaan karakteristik, minat dan bakat peserta
didik. Keuntungan lain yang menyolok adalah bahwa teknologi informasi dapat
mengatasi permasalahan ruang, waktu dan jarak dalam proses belajar. Berkaitan
dengan teknologi informasi, komputer merupakan media penyampaian pembelajaran
yang efektif. Pembelajaran melalui komputer merupakan suatu usaha yang
sistematik dan terencana sehingga dapat mengatasi kelemahan-kelemahan pada
pembelajaran kelompok. Langkah-langkah pembelajaran yang sistematik dapat
membentuk siswa belajar dengan lebih efektif dan efisien. Multimedia mengandung
unsur komputer. Multimedia memberikan kesempatan untuk belajar tidak hanya dari
satu sumber belajar seperti guru, tetapi memberikan kesempatan kepada subjek
mengembangkan kognitif dengan lebih baik, kreatif dan inovatif. Hal ini salah
satunya karena informasi disajikan dalam dua atau lebih bentuk seperti dalam
bentuk gambar dan kata-kata (Mayer dan Moreno, 1998). Berhubung informasi
disajikan dalam berbagai bentuk, maka subjek dapat memadukan berbagai informasi
dari tampilan lisan dan tulisan. Jadi subjek dapat memadukan informasi verbal
yang disajikan secara visual dan informasi verbal yang disajikan secara audio.
Pada teori kognitif pembelajaran multimedia (The
Cognitive Theory of Multimedia Learning) terdapat beberapa prinsip yang bisa
dijadikan pedoman oleh para perancang multimedia dan e-learning saat membuat
pembelajaran atau presentasi yang informasinya terdiri dari teks, grafik
(gambar), video dan audio untuk mengoptimalisasikan pembelajaran. Tiap-tiap
prinsip telah dilakukan penelitian (research) dengan
menggunakan berbagai macam kondisi pembelejaran multimedia untuk menentukan
hasil mana yang terbaik untuk pembelajaran para siswa. (Clark & Mayer,
2011).
Multimedia
Principle
Multimedia principle merupakan
teori yang dipelajari secara mendalam oleh Richard Mayer. Mayer mengatakan
bahwasanya prinsip ini menyatakan, gabungan kata-kata (words) dan gambar
lebih kondusif digunakan untuk pembelajaran, jika dibandingkan dengan yang
terdiri atas teks ataupun gambar saja. Hasil studi menunjukkan bahwa peserta
didik tidak terlibat lebih mendalam dalam pembelajaran ketika pembelajaran
tersebut hanya terdiri atas teks saja, hal itu tidak akan menghubungkan antara
apa yang mereka baca pada teks dengan pengetahuan baru ataupun yang sudah ada
sebelumnya.
Hasil
studi juga menunjukkan bahwasanya terdapat dua saluran (channel) yang
digunakan untuk melakukan pemrosesan terhadap informasi, yaitu auditori dan
visual. Saluran auditori melakukan pemrosesan terhadap suara yang kita dengar,
dan saluran visual melakukan pemrosesan terhadap apapun yang kita lihat. Dengan
mengkombinasikan kedua proses ini, hasil studi menunjukkan bahwasanya para
peserta didik bisa melakukan pembelajaran dengan lebih mendalam dan hasilnya
tersimpan dalam memori para peserta didik dengan waktu yang lebih lama. Hasil
studi tersebut juga menunjukkan, visual ataupun teks yang sangat banyak bisa
membebani peserta didik. Jadi antar visual dan teks harus diseimbangkan dan
saling berhubungan antara satu dengan yang lain, sehingga tidak membingungkan
proses pembelajaran para peserta didik.
Grafik (graphic)
bisa berupa gambar statis, animasi ataupun video. Adapun tipe-tipe grafik,
antara lain:
- Decorative graphics, grafik jenis ini digunakan hanya untuk dekorasi saja, tidak meningkatkan kualitas dari pesan yang ingin disampaikan pada pembelajaran dan terkadang membingungkan peserta didik.
- Representational graphics, gambaran yang berupa foto yang di dalamnya terdapat caption (teks) yang menjelaskan tentang foto tersebut. Contohnya pada gambar di bawah, merupakan foto gunung Everest yang dilengkapi dengan tempat-tempat untuk berkemah.

- Relational graphic, menggambarkan adanya hubungan yang bersifat kuantitatif antara dua atau lebih variabel.

- Organizational graphics, menggambarkan adanya hubungan antar masing-masing elemen.
- Transformational graphics, menggambarkan adanya perubahan ruang dan waktu. Contohnya adalah gambaran metamorfosis di bawah ini.

- Interpretive graphics, visual yang menampilkan objek-objeknya secara nyata dan konkrit. Contohnya adalah gambaran siklus air di bawah ini.

Telah
banyak studi yang dilakukan dan membuktikan bahwasanya teori ini valid dan
terus berkembang saat ini. Selama lebih dari satu dekade, Mayer telah meneliti
bagaimana peserta didik melakukan proses pembelajaran dan mencari cara terbaik
untuk menstimulus kedua saluran tersebut, auditori dan visual. Dia melakukan
sebelas penelitian untuk membandingkan peserta didik yang mana yang melakukan
proses pembelajaran dengan baik, dibandingkan antara yang menggunakan animasi
dan narasi atau yang menggunakan teks dan ilustrasi dengan yang menggunakan
teks saja. Seluruh penelitiannya menyatakan para peserta didik yang belajar dengan
grafik dan teks bisa menjawab pertanyaan mengenai proses lebih baik
dibandingkan dengan yang hanya belajar dengan teks saja.
Contiguity
Principle
Secara
sederhana prinsip ini diartikan sebagai, “mendekatkan (align) teks
dengan grafik yang sesuai” (Clark & Mayer, 2011). Hal ini berarti, subjek
utama secara fisik tidak boleh terpisah dari teksnya. Prinsip contiguity ini
secara tidak langsung menyatakan, bahwa tidak hanya teks yang perlu
disesuaikan, tetapi juga audio harus disesuaikan dengan grafik yang terkait.
Satu contoh adalah ketika pada sebuah grafik terdapat diagram, maka teks secara
fisik harus diletakkan di dekat bagian-bagian dari diagram.

Gambar di atas telah
menggunakan prinsip contiguity, karena label-label yang menyatakan
bagian-bagian dari otak secara fisik diletakkan dekat dengan bagian otak yang
dijelaskan oleh label-label tersebut.

Pada gambar di atas, prinsip contiguity telah diabaikan karena
label-label yang menjelaskan bagian-bagian dari otak diletakkan terpisah dari
gambar otak.
Prinsip ini mungkin tampak sederhana dan intuitif, akan tetapi terdapat
beberapa “pelanggaran” yang mungkin dilakukan terhadap prinsip ini. Clark &
Mayer (2011) memberikan beberapa contoh pelanggaran tersebut di bawah ini [di
sini kami tidak menuliskan semua contohnya, ed]:
- Terpisahnya teks dan grafik karena harus di-scroll dari satu laman ke laman lainnya pada layar komputer (biasanya ditemukan pada halaman web instruksional).
- Terpisahnya kuis dengan feedback-nya. Terkadang feedback disediakan pada laman yang terpisah dari pertanyaan kuisnya, hal ini membuat para peserta didik kesulitan untuk mencari keterkaitan atau hubungan antara feedback dengan pertanyaannya.
- Penyajian arahan saat mengerjakan ujian (seperti klik di sini, kemudian klik di sini) yang terpisah dari ujian itu sendiri. Hal ini mendorong peserta didik untuk berpikir sedikit keras agar terbiasa menjalankan arahan yang diberikan pada layar (screen) yang terpisah dan ini adalah pelanggaran terhadap prinsip contiguity.
- Secara simultan menampilkan teks dan animasi yang berkaitan. Hal ini mendorong peserta didik untuk membaca ulang teks, kemudian melihat grafik, kemudian melihat teks lagi, begitu seterusnya.
- dll
Berbagai
macam studi telah dilakukan untuk mendukung prinsip contiguity ini.
Moreno dan Mayer (1999) menemukan bahwasanya para peserta didik bisa melakukan
pembelajaran dengan baik ketika teks dan animasi ditempatkan saling dekat
antara satu dengan yang lain dibandingkan dengan yang berjarak jauh antara satu
dengan yang lain. Mereka juga melaporkan pada hasil publikasi yang sama, narasi
diberikan secara simultan dengan animasi untuk para peserta didik dan secara
temporal dipisahkan dengan animasi. Peserta didik dengan kondisi narasi dan
animasi ditampilkan secara simultan melakukan pembelajaran dengan lebih baik
jika dibandingkan dengan kondisi dimana narasi dan animasi dipisahkan antar
satu dengan yang lain.
Modality
Principle
Secara
umum, prinsip modality adalah lebih banyak menampilkan narasi
(perkataan) lebih baik daripada teks yang ditampilkan pada layar (on-screen
text) (Clark dan Mayer, 2011). Peserta didik akan melakukan pembelajaran
dengan lebih baik ketika informasi baru yang ada dijelaskan menggunakan narasi
audio, terlebih jika grafik yang ditampilkan sangat kompleks, kata-kata yang
dinarasikan terdengar familiar, dan pembelajaran berjalan dengan cepat. Sangat
penting untuk dicatat bahwasanya prinsip modality akan semakin terasa
manfaatnya ketika materi pembelajaran begitu kompleks bagi peserta didik
(Tindall-Ford, Chandler & Sweller, 1977).
Menurut
pandangan ilmu psikologi, tugas peserta didik dalam proses pembelajaran adalah
menerima informasi. Banyak peserta didik lebih mudah menerima informasi lewat narasi
audio jika dibandingkan dengan on-screen text, terlebih jika narasi dan
gambar ditampilkan secara bersamaan dengan tepat, dengan perkataan yang
familiar dan grafik yang kompleks. Jika menggunakan on-screen text
peserta didik bisa terbebani dengan banyaknya visual dan gambar pada layar dan
di saat yang sama mereka harus memproses grafik dan teks yang ada.
Moreno
& Mayer (1999) melakukan penelitian dengan memisahkan dua kelompok peserta
didik dengan dua metode pembelajaran yang berbeda dengan topik terjadinya
kilat. Kelompok pertama diberikan animasi yang menggambarkan tahapan
terbentuknya kilat, pada animasi tsb juga dilengkapi dengan narasi audio
penjelasan terbentuknya kilat yang ditampilkan secara bersamaan. Pada kelompok
kedua, mereka diberikan animasi yang dilengkapi dengan on-screen text
yang juga ditampilkan secara bersamaan. Kelompok yang pertama, yang animasinya
dilengkapi dengan narasi audio ternyata bisa menjelaskan dengan lebih
signifikan dibandinng dengan kelompok yang kedua.
Prinsip Modality
sepertinya tidak bisa diimplementasikan pada situasi dimana ternyata
penjelasannya panjang dan kompleks, kemudian terdapat simbol-simbol ataupun
istilah teknis ataupun penjelasannya tidak menggunakan bahasa asli peserta
didik, ataupun materi yang disampaikan dengan kecepatan yang kecil, dll.
Redudancy Principle
Pada
skenario pembelajaran multimedia, kita banyak melihat adanya teks dan audio
yang dijalankan secara simultan. Prinsip redudansi menyatakan bahwasanya para
peserta didik bisa melakukan pembelajaran dengan lebih baik jika hanya ada
animasi dan narasi. Informasi teks yang ditampilkan secara visual menjadi
materi yang redundan. Mengeliminasi materi-materi yang bersifat redundan,
menghilangkan narasi dan teks yang bersifat identik merupakan cara yang tepat
agar peserta didik bisa melakukan pembelajaran dengan baik. Alasannya adalah
orang-orang tidak bisa fokus jika mendengar dan melihat pesan verbal secara
bersamaan selama presentasi pembelajaran (Hoffman, 2006).
Coherence Principle
Salah
satu kesalahan yang umum dilakukan ketika pengembang e-learning merancang
proyek atau course adalah menggunakan latarbelakang musik, konten dan
grafik on-screen yang tidak relevan, yang tidak ada kaitannya sama sekali.
Menurut Clark dan Mayer (2011) dalam buku: “E-learning and the Science of
Instruction”, prinsip coherence dinyatakan sebagai: semua informasi yang
tidak dibutuhkan dalam penyampaian multimedia harus dieliminir seperti suara,
gambar, kata-kata karena bisa mengganggu peserta didik. Menambahkan materi yang
menarik namun tidak relevan dengan e-learning bisa membingungkan para pengguna.
Personalization Principle
Prinsip
ini menggunakan gaya yang bersifat konversasional (percakapan) dan virtual
coaches (Clark & Mayer, 2011). Prinsip ini melibatkan peserta didik
dengan cara menyajikan konten dengan nada percakapan dalam rangka untuk
meningkatkan pembelajaran. Clark dan Mayer (2011) juga menemukan bahwasanya
penggunakan agen pedagogikal bisa membantu peserta didik untuk fokus pada
pembelajaran yang diberikan.

Kita
harus menggunakan percakapan bukan tulisan formal dalam pembelajaran sehingga
peserta didik bisa berinteraksi dengan komputer seperti halnya interaksi antara
manusia dengan manusia (human-to-human conversations). Karakter tersebut
bisa bertindak sebagai partner untuk berdialog dengan mereka.
Segmenting Principle
Segmentasi
merupakan prinsip yang sangat sederhana, dimana kita hanya membagi segmen yang
lebih luas menjadi segmen-segmen yang lebih kecil. Cara yang umum digunakan
pada materi yang disegmentasi ini adalah dengan cara memainkan tombol
“Continue” pada masing-masing frame pada setiap slide. Hal ini bisa bermanfaat
untuk, pertama: bisa membantu peserta didik untuk berpindah dari satu slide ke
slide lainnya sesuai dengan seleranya masing-masing dan kedua mereka bisa
mencerna informasi yang ada sesuai dengan kecepatan (berpindah dari satu slide
ke slide lainnya) untuk bekerja dengan lebih baik. Menurut Clark dan Mayer
(2011), rasional dari menggunakan segmentasi adalah bisa memberikan manfaat
kepada peserta didik untuk mencerna informasi tanpa harus meng-overload sistem
kognitif.
Pre-training Principle
Secara
umum, prinsip pre-training bermakna pengguna mengetahui nama dan
karakteristik dari konsep kunci (key concept) sebelum mereka mempelajari
sesuatu. Prinsip ini relevan dengan situasi ketika pengguna mencoba memproses
materi esensial dalam pembelajaran namun mereka kewalahan, karena mungkin
materi yang begitu kompleks.
Pre-training bisa membantu pengguna,
khususnya bagi para pemula, dalam hal mengurangi waktu untuk mempelajari
beberapa pengetahuan dan membantu mereka untuk mengelola beberapa materi yang
bersifat kompleks. Key concept diidentifikasi, kemudian dijelaskan di
bagian awal pembelajaran. Pre-training bisa mempermudah pemula untuk
memahami konsep dan keahlian tertentu.
Contohnya adalah ketika
mengilustrasikan bagaimana menggunakan mikroskop di bawah ini:

Place the Slide on the Microscope
- Stage Clips are not necessary
- Click Nosepiece to the lowest (shortest) setting – Scanning Objective
- Look into the Eyepiece
- Use the Coarse Focus
- Once the slide is focused, rotate the nosepiece to the low power objective (medium sized)
- Refocus using the coarse (large) knob
Move slide to get a centered view
Maka bagian pre-training-nya
adalah memberikan penjelasan bagian-bagian mikroskop agar mereka bisa memahami
bagaimana menggunakannya.

Diringkas dari: